Resensi Novel: Pembunuhan Terpendam (Sleeping Murder) oleh ‌Agatha Christie

Judul: Pembunuhan Terpendam (Sleeping Murder)

Penulis: ‌Agatha Christie

Alih Bahasa: Maria Mareta

Penerbit: PT Gramedia Pustaka Utama

ISBN: 978 – 979 – 22 – 7580 – 3

Halaman: 320

Personal Rate: 3.5/5

Sumber: Google

Well, butuh waktu lama untukku membaca buku ini. Bukan karena rumit, tetapi karena ceritanya cukup sederhana untuk ukuran novel Agatha Christie. Namun, alurnya berputar-putar dan membuatku ingin segera menyelesaikannya. Mungkin karena tokoh dalam buku ini adalah Miss Marple—aku lebih menyukai Hercule Poirot. Sleeping Murder ini adalah buku dengan karakter Miss Marple pertama yang aku baca. Beberapa kali aku merasa bosan membacanya. Jika biasanya aku selalu dibuat tercengang saat fakta terkuak, tetapi tidak kali ini. Yeah, Hercule Poirot was the best character in ‌Agatha Christie’s.

Ok, mari kita mulai ^^


“Tutuplah mukanya, aku tak tahan ‌melihatnya mati muda...”

Gwenda dan Giles—pasangan suami istri dari Selandia Baru—ingin membeli rumah dan menetap di Inggris. Gwenda mendahului Giles untuk pergi ke Inggris dan ia yang mencari rumah, sementara suaminya, Giles, akan menyusul entah kapan karena pekerjaannya menghasruskan ia bepergian.

Gwenda dan supirnya mulai mencari rumah di Devonshire, tetapi tidak ada satu pun yang cocok dengan seleranya. Hari berikutnya ia dan supirnya melalu jalan berkelok-kelok di bukit dan perlahan turun menuju Dillmouth yang berbatasan dengan laut, Gwenda melihat sebuah papan yang tertulis: DIJUAL. Dilihatnya sebuah vila bergaya arsitektur Victoria. Seketika itu ia merasakan getaran di hatinya, tetapi anehnya ia seakan-akan mengenali rumah itu. Lantas ia melihat-lihat isi rumah dan kemudian membelinya.

Sementara Giles belum kembali, Gwenda memilih kamar tidur yang letaknya di pojok. Ia ingin memasang kertas dinding di kamar itu dengan motif tangkai-tangkai kecil diselingi tangkai-tangkai gandum. Ia merasa sangat cocok dan menyukai rumah itu. Namun perasaan bawah sadarnya mengatakan bahwa ia mengenali rumah itu. Ia meminta tukang kebunnya, Foster untuk membuat jalan ke bawah, dan ternyata anak tangga di kebun dulunya adalah jalan yang persis seperti Gwenda kehendaki sekarang.

Gwenda sangat yakin bahwa ada pintu yang menghubungkan ruang duduk dan ruang makan, tetapi ia selalu mendapati dinding tebal. Akhirnya ia meninta tukang untuk membuat pintu di dinding ruang duduk itu. Dan betapa herannya Gwenda saat tukang itu berkata bahwa sebelumnya memang ada sebuah pintu di tembok itu.

Saat mengingat kejadian itu, tiba-tiba ia gemetar karena merasakan sesuatu yang tidak enak pada dirinya—mungkin pada rumah yang baru dibelinya. Tidak sampai di situ, Gwenda mengalami kejadian aneh lagi yang membuatnya menjerit.

Saat ia membuka lemari di kamarnya—perabot yang ia dapat dari rumah itu— ia mendapati bagian dalam lemari itu memperlihatkan lapisan dinding yang asli. Ternyata dahulu dinding itu dilapisi kertas dinding yang sama persis dengan yang ia dambakan: tangkai-tangkai kecil diselingi tangkai-tangkai gandum!

Gwenda terus berpikir apakah ia memiliki kekuatan batin atau mungkin ada yang tidak beres dengan rumah itu. Apakah rumah itu berhantu? Namun, ia menapiknya. Ia meyakinkan dirinya bahwa rumah itu tidak berhantu. Rumah itu benar-benar membuat Gwenda takut. Lantas ia pergi meninggalkan Dillmouth dan mengunjungi kediaman Raymond West, sepupu Giles, di London.

Saat Gwenda sampai di kediaman Raymond, ia mengenalkan Gwenda pada bibinya, Miss Marple. Ia adalah wanita tua yang suka sekali memecahkan suatu persoalan. Lalu mereka menonton pertunjukan. Pertunjukannya bagus dan Gwenda menyukainya. Namun, saat pertunjukan mendekati akhir, ceritanya mengerikan. Terdengar suara aktor berbicara “Tutuplah mukanya, aku tak tahan melihatnya mati muda”. Saat itu Gwenda menjerit dan berlari keluar ruangan dan pulang ke rumah Raymond.

Ia merasa seolah-olah kembali berada di atas tangga rumah dan melihat kebawah dan mendapati perempuan tergeletak mati tercekik. Entah mengapa, Gwenda yakin sekali bahwa perempuan itu Helen. Padahal ia tidak kenal siapa itu Helen. Kegelisahannya ini ia curahkan kepada Miss Marple.

Gwenda merasa harus menyingkap misteri kematian yang berada di rumah barunya itu, lantas ia dan Giles serta Miss Marple bersusah payah mengungkap fakta. Miss Marple yang cerdik akhirnya mengetahui siapa yang membunuh Helen.

KELEBIHAN BUKU

Aku tak tahu apa kelebihan buku ini, mungkin terletak di cerita yang cukup mudah diikuti.

KEKURANGAN BUKU

Tak seperti buku-buku Christie yang lain, buku ini terkesan membosankan dan alurnya lambat.

Resensi Novel: Good Wives by Louisa May Alcott

Judul: Good Wives (Little Women Part II)

Penulis: Louisa May Alcott

Alih Bahasa: Annisa Cinantya Putri dan Widya Kirana

Penerbit: PT Gramedia Pustaka Utama

ISBN: 9786020310350

Halaman: 416

Personal Rate: 5/5

Sumber: Pinterest

I’m so emotional after reading this great book!

How awesome this book! Aku sampai bingung bagaimana menggambarkan isi buku ini, huftt! Tawa dan air mata turut menyertaiku saat membaca buku ini. Banyak sekali pelajaran tentang hidup mulai dari hal remeh temeh hingga persoalan besar yang sering terjadi di kehidupan kita. Walaupun aku membaca buku ini di aplikasi iPusn*s, tetapi buku ini ada di daftar buku yang ingin kubeli dan kelak akan menjadi bagian dari ‘favorite books’ di rak bukuku ^^

Setelah kepulangan Mr. March dari medan perang serta pertunangan Meg dan Brooke di buku pertama, Little Women, perjalanan lika-liku keluarga March kembali dikisahkan dalam Good Wives—buku kedua dari Little Women. Di mana masa kanak-kanak mereka yang penuh canda tawa dan menyenangkan perlahan memudar seiring berjalannya waktu, dan membawa gadis-gadis March menjadi wanita dewasa yang anggun dan suasananya berubah menjadi lebih serius. Dalam buku ini, pembaca diajak terbang oleh sang waktu dan mendapati waktu bisa begitu kejam dan sangat baik dalam waktu bersamaan.


SINOPSIS

Sudah tiga tahun sejak kepulangan Mr. March dari medan perang serta pertunangan Meg dengan Brooke—guru pribadi Laurie. Selama tiga tahun tersebut, gadis-gadis March tumbuh dengan menawan. Pengembangan karakter mereka tergambar cukup jelas. Meg yang cantik kian bijaksana dan keibuan. Jo yang tomboi sedang belajar menjadi lebih anggun. Beth kini kian ramping dan pucat, tetapi matanya selalu memancarkan kebaikan. Sedangkan Amy, pada usia enam belas tahun memiliki pembawaan seperti wanita dewasa dan kian menawan.

Meg sibuk memantaskan diri menjadi Mrs. Brooke. John Brooke adalah pemuda yang baik, ia disukai oleh semua orang, tetapi tidak dengan Jo—pada awalnya. Semula Jo merasa kecewa dan tidak setuju dengan pernikahan ini, ia menyayangi Meg dan ia ingin Meg menikah dengan laki-laki kaya sebagaimana yang dulu diimpikan oleh Meg. Namun seiring berjalannya waktu, melihat Meg sangat mencintai Brooke, Jo berusaha ikhlas melepas kakak kesayangannya memasuki kehidupan baru bersama Brooke. Setelah menikah, Meg mendapati bahwa berumah tangga tidak semudah yang dibayangkan. Ia kerap mengalami kesulitan dan kelelahan terutama saat merawat anak kembar mereka. Namun, John Brooke, suaminya selalu sabar menghadapi dan membantu istrinya dengan lemah lembut.

Jo kini tengah belajar menahan lidah tajamnya, tetapi terkadang kata-kata pedas keluar tanpa ia sadari. Bibi Carrol pada awalnya ingin mengajak Jo ikut serta dalam perjalanannya ke luar negeri. Namun, lidah tajam Jo membuatnya kecewa, dan Jo menyatakan tidak menyukai bahasa Prancis, dan pikir Bibi Carrol ia tidak cocok dengan Flo—anaknya. Alih-alih, ia mengajak Amy karena menyukai sikap santunnya dan mengetahui Amy bisa berbicara dalam bahasa Prancis sedikit-sedikit. Jo yang malang lantas menyesali apa yang telah diperbuat oleh lidahnya.

Sementara Amy tengah melebarkan sayapnya di negeri nun jauh di sana, pertemanan Jo dengan Laurie mengalami perubahan. Untuk menghindari hal-hal yang tak diinginkan, Jo bertolak ke New York untuk mengasuh anak dari kerabat orang tuanya, Mrs. Kirke. Di sana ia bertemu teman baru, Profesor Bhaer—guru bagi anak-anak. Setelah pernikahan Meg, Jo telah memulai debutnya dalam dunia literasi. Ia mengirimkan beberapa naskahnya ke penerbit dan mendapatkan upah darinya. Dalam kesibukannya mengasuh anak-anak Mrs. Kirke, ia tetap menulis. Suka duka menghampiri ia dengan naskahnya.

Kondisi Beth, semakin lemah setiap harinya. Kini jarum terasa berat untuk jari kecilnya. Mrs. March sering mendapatinya tengah menagis di dekat jendela. Kembalinya Jo dari New York, ia menyerahkan dirinya untuk selalu berada di sisi Beth, adik kesayangannya. Beth, yang merasa dirinya dekat dengan kematian hanya mau bercerita kepada Jo. Seisi rumah tahu bahwa Beth, malaikat kecil mereka, akan pergi tak lama lagi. Namun mereka diam saja, dan sebisa mungkin membuat hari-hari Beth selalu menyenangkan. Saat hari itu tiba, keluarga March (dan juga pembaca) tampak terpukul dan sedih kehilangan Beth. Semua orang yang mengenal Beth tentu merasa sangat kehilangan sosoknya. Namun, di sisi lain mereka senang karena Beth tidak lagi merasa sakit. Mereka yakin, Beth tidak pergi ke mana-mana melainkan tetap tinggal di hati mereka.

Setelah kematian Beth, Jo merasa sangat kesepian. Aku sangat merasakan betapa pahitnya penderitaan Jo. Berkat nasihat Ibu dan Ayahnya, Jo perlahan membangkitkan semangatnya. Kepulangan Amy benar-benar membuatnya terkejut. Ya, akupun sebagai pembaca merasa sangat terkejut. Dan aku tak akan mengatakan apa sebabnya. (Hahaha)

Karena kesabaran dan kebaikan hatinya, serta pengorbanan tulus yang ia berikan kepada Beth, Jo menemukan penawar sepi dan kekosongan hatinya. Jo, seorang yang dahulu berpikir tak ingin bercinta, kini tengah merasakan asam manisnya jatuh cinta. Dan salah satu puisi yang ditulisnya membawa cinta yang ia dambakan.

Kebaikan-kebaikan mereka, membawa mereka pada akhir yang lebih baik dari yang mereka dambakan. Air mata dan kerja keras mereka, kini berganti dengan kebahagiaan yang bermakna.

KELEBIHAN BUKU

  1. Alur ceritanya lebih cepat dibandingkan Little Women.
  2. Sama seperti buku sebelumnya, tokoh dan tempat dalam buku ini tergambar jelas dan kuat, bahkan baju yang dipakainya saat ke pesta tergambar cukup jelas di kepalaku.
  3. Konfliknya lebih luas dan mendalam.
  4. Ada sedikit plot twist yang membuat buku ini makin seru.

KEKURANGAN BUKU

Aku tak dapat menemukan kekurangan dalam buku ini, im sorry.

Resensi Novel: The Adventures of Tom Sawyer by Mark Twain

Judul: The Adventures of Tom Sawyer

Penulis: Mark Twain

Penerjemah: Zulkarnaen Ishak

Penerbit: Shira Media

ISBN: 978 – 602 – 1142 – 54 – 7

Personal Rate: 3.5/5

The Adventures of Tom Sawyer adalah salah satu karya terbaik Mark Twain. Novel ini terbit pertama kali pada tahun 1876. Novel ini bercerita tentang Tom Sawyer, anak yatim piatu yang tinggal bersama bibinya, Bibi Polly, di tepi sungai Mississippi. Tom adalah anak nakal, tetapi cerdik dan baik hati. Oh, aku tidak tahu apakah aku pernah bertemu dengan anak senakal Tom. He’s a little brat! Tingkah lakunya selalu membuat Bibi Polly geram (tentu aku juga merasakan hal yang sama). Meski kerap menghukum Tom, Bibi Polly sangat menyayangi anak asuhnya itu. Pun dibalik kenakalan Tom, ia memiliki sifat yang baik hati.

Akh, cerita ini sederhana tetapi akan panjang jika dijabarkan. Sulit rasanya memotong bagian yang seru dari kisah petualangan Tom ini. Hope you guys enjoy read this (^^)


Pada suatu malam, tepatnya tengah malam, Tom dan Huckleberry Finn—anak seorang pemabuk yang tidak dihargai lagi dalam pergaulan—pergi mengunjungi kuburan untuk melakukan ritual guna menghilangkan ‘kutil’. Saat mereka sampai di kuburan, mereka melihat ada tiga orang yang mencuri mayat, orang itu adalah Dokter Robinson, Muff Potter, dan Injun Joe. Lalu terjadi pertikaian dan… bahkan pembunuhan!

Injun Joe telah membunuh Dokter Robinson dengan pisau milik Muff Potter. Untuk menghilangkan jejak, Injun Joe menyelipkan pisau penuh darah itu di tangan Muff Potter yang terkulai pingsan. Injun Joe mengira tidak ada yang melihat perbuatan busuknya. Namun, Tom dan Huck jelas melihat mereka! Setelah jatuhnya Dokter Robinson, kedua bocah itu lari terbirit-birit. Mereka sangat takut dengan apa yang baru saja dilihatnya. Tom dan Huck—yang sangat ketakutan—membuat janji dengan sumpah untuk tidak membocorkan bahwa Injun Joe-lah pembunuhnya.

Warga St. Petersburg mengira Muff Potter-lah yang telah membunuh Dokter Robinson. Muff Potter—yang saat kejadian itu sedang mabuk—tidak bisa menyangkal, bisa saja ia membunuh saat sedang mabuk, dan dia tidak menyadarinya. Maka Muff Potter mendekam di penjara dan akan mendapatkan hukuman gantung. Tom dan Huck merasa iba dengan Muff Potter, tetapi mereka terlalu takut untuk mengungkap kebenaran.

Pernah suatu ketika Tom merasa sangat nelangsa dan selalu disalahkan, ia ingin sekali pergi dari rumah. Sejenak ia melupakan kasus pembunuhan itu. Tom mengajak temannya, Joe Harper dan Huck Finn untuk pergi ke Jackson Island dan meninggalkan St. Petersburg. Mereka bersenang-senang dan berencana menjadi bajak laut. Bibi Polly dan Sereny Harper, ibu Joe, sangat sedih kehilangan bocah nakal itu. Mereka semua mengira bocah-bocah nakal itu telah mati. Namun, pada akhirnya ketiga bocah itu pulang karena rindu dengan keluarga—kecuali Huck, karena ia hanya tinggal seorang diri di jalanan—dan juga bosan dengan apa yang mereka lakukan.

Saat hari di mana Muff Potter harus dihukum gantung, Tom akhirnya buka suara. Semua orang terkejut ketika tau Injun Joe-lah yang telah membunuh Dokter Robinson. Lantas, Injun Joe kabur dari situ dan pergi jauh entah ke mana. Tom dan Huck sangat tertekan karena cemas kalau Injun Joe datang dan membunuh mereka.

Sudah lama Tom dan Huck melupakan kasus pembunuhan itu, sampai mereka tidak sengaja melihat Injun Joe dan temannya menemukan harta karun. Tom dan Huck—yang memang tengah mencari harta karun—merasa iri dengan Injun Joe dan berniat ingin mencuri harta karun itu darinya.

Sementara mereka memburu memburu harta karun dengan memata-matai Injun Joe, warga St. Petersburg pun mencarinya karena ia ketahuan akan mencelakai seorang wanita tua. Alih-alih ditemukan untuk dihukum gantung, Injun Joe ditemukan dalam keadaan tidak bernyawa di dalam gua. Tom dan Huck merasa beban berat mereka telah terangkat. Dan mereka mendapatkan harta karun yang disimpan Injun Joe di dalam gua. Mereka sangat senang dan tidak menyangka dapat memiliki uang sebanyak itu. Kini, dua bocah itu menjadi kaya raya dan dipandang di St. Petersburg.

KELEBIHAN BUKU

  1. Alurnya rapih dan mengalir seperti sungai.
  2. Penggambaran tokoh cukup jelas.
  3. Cerita Tom Sawyer ini tak hanya bisa dinikmati kanak-kanak, namun orang dewasa juga. Karena Mark Twain sendiri yang bilang bahwa buku ini bisa mengingatkan orang dewasa tentang masa kanak-kanaknya.

KEKURANGAN BUKU

Ok, ini subjektif. Menurutku, kekurangan buku ini adalah jalan cerita yang kurang representatif untuk masa kanak-kanakku. Dan di awal cukup membosankan.

Resensi Novel: Little Women oleh Louisa May Alcott

Judul: Little Women

Penulis: Louisa May Alcott

Alih Bahasa: Rahmani Astuti

Penerbit: PT Serambi Ilmu Semesta

ISBN: 978 – 979 – 024 – 165 – 7

Halaman: 492

Personal rate: 4.5/5

Little Women adalah novel klasik karya Louisa May Alcott, sastrawan Amerika. Novel ini adalah salah satu karya yang sangat disayangi di dunia sastra Amerika, bahkan dunia. Little Women sangat direkomendasikan untuk kamu yang suka membaca cerita slice of life dan coming of age. Novel dengan cerita yang dekat dengan kehidupan kita ini, memberi banyak pelajaran tentang hidup—keluarga sebagai harta paling berharga, tentang menjadi dewasa, berdamai dengan luka, menemukan esensi bahagia, dan berteman dengan kesederhanaan. Happy reading ^_^

—————————————————————

SINOPSIS

Novel ini menceritakan kehidupan empat anak perempuan dalam keluarga March. Meg, yang paling tua di antara ketempat anak perempuan itu, berusia 16 tahun, sangat cantik dengan wajah yang berseri dan ceria, bijaksana sebagaimana mestinya anak pertama, dan ia sangat feminim. Jo, berusia 15 tahun dengan tubuh yang tinggi, rambut yang indah, periang dan usil, susah diatur, tomboi dan merasa dirinya sebagai anak laki-laki yang harus menjaga ketiga saudarinya. Ia adalah seorang kutu buku dan suka menulis cerita.

Beth, gadis berusia 13 tahun yang kulitnya bersemu merah jambu, pemalu, kesayangan semua orang, selalu memikirkan orang lain, dan sangat menyukai musik. Amy, gadis paling muda dalam keluarga March, berkulit putih dengan mata biru dan rambut kuning yang berikal, sopan santun dan menjaga kehormatan, kekanak-kanakan, terkadang menjengkelkan dan manja seperti anak bungsu pada umumnya, dan ia memiliki darah seni serta bercita-cita menjadi pelukis.

Keempat anak perempuan itu tinggal bersama Ibunya dan juga pelayan yang sudah lama bekerja untuk keluarga March, Hannah. Sedangkan Ayah mereka berada jauh dari rumah untuk bertempur di medan perang.

Seperti yang biasa terjadi di kehidupan sehari-hari, kisah keempat gadis March ini memberi refleksi bagaimana menjalani hidup yang bermakna dan menyenangkan di tengah kesederhanaan. Dalam kesederhanaan, gadis-gadis March hidup bahagia. Dan sebagai saudari, mereka saling menyayangi, saling membantu, terkadang saling bertengkar dan mengejek. Namun, mereka tetap saling memuji dan melindungi satu sama lain. Hubungan mereka sebagai saudari sangat menawan dan patut dijadikan contoh.

Pada suatu ketika Jo bertemu dengan Theodore Laurence—cucu laki-laki tetangga mereka, Mr. Laurence—di sebuah pesta, mereka mengobrol dan langsung merasa cocok. Sejak saat itu, mereka berteman. Laurie—panggilan untuk Theodore Laurence—sangat baik dan bersikap manis kepada gadis-gadis March. Ia teman yang menyenangkan dan sering menghibur mereka di saat-saat sulit. Mereka menghabiskan banyak waktu bersama Laurie. Ia sudah seperti saudara laki-laki bagi mereka. Di antara gadis-gadis March, Laurie lebih akrab dengan Jo.

Dalam sebuah keluarga, pasti ada kebahagiaan juga kesedihan. Begitu pula dengan keluarga March, yang mengalami ombang-ambing kehidupan dalam kesederhanaan. Beth, anak perempuan yang baik hati ini terserang penyakit yang membuat mereka takut akan kehilangan malaikat kecilnya. Namun, kembalinya Ayah di sisi mereka dan cerita cinta pertama yang dialami Meg perlahan mengembalikan kegembiraan yang mereka rindukan.

KELEBIHAN BUKU

  1. Walaupun buku ini terbit pertama kali di Amerika pada tahun 1868, namun dinamika kehidupan yang disuguhkan oleh buku ini tetap cocok untuk pembaca dari Indonesia—di mana dari segi budaya sangat berbeda dengan Amerika—bahkan setelah puluhan tahun lamanya.
  2. Karakter-karakter dalam buku ini tergambar sangat jelas dan kuat. Bukan hanya itu, bahkan latar tempat pun digambarkan jelas, sehingga imajinasi pembaca bisa terbang bebas ke abad 19.
  3. Karakter dari Meg, Jo, Beth, dan Amy seolah mewakilkan karakter yang hampir dari kita semua miliki. Aku kagum dengan Louisa May Alcott yang telah menciptakan karakter-karakter yang sangat dicintai di sastra Amerika—bahkan dunia—tersebut.

KEKURANGAN BUKU

Menurut saya, hanya sedikit kekurangan dalam buku ini yaitu alur yang terkesan lambat di awal.

Resensi Novel: Pembunuhan ABC oleh Agatha Christie

Judul: Pembunuhan ABC

(The ABC Murder)

Penulis: Agatha Christie

Alih Bahasa: Luci Dokubani

Penerbit: PT Gramedia Pustaka Utama

ISBN: 978 – 979 – 22 – 8523 – 9

Halaman: 344

Genre: Misteri

Personal Rate: 5/5

Pembunuhan ABC adalah novel Agatha Christie pertama yang aku baca. Bagi kalian yang suka cerita detektif dan misteri, buku ini sangat aku rekomendasikan ^_^


SINOPSIS

Hercule Poirot adalah detektif ulung yang terkenal pada masa kejayaannya. Suatu ketika sahabat karibnya, Kapten Hastings, datang menyambanginya. Lalu Mr. Poirot memberi tahu Kapten Hastings tentang surat kaleng yang ia terima sebelum kedatangannya.

Mr. Hercule Poirot—Anda menganggap Anda dapat memecahkan misteri-misteri yang bahkan terlalu rumit bagi polisi Inggris kami yang dungu, bukan? Mari kita buktikan, Mr. Clever Poirot, sampai di mana kepintaran Anda. Mungkin bagi Anda kasus ini tidak terlalu sulit untuk dipecahkan. Berhati-hatilah terhadap apa yang akan terjadi di Andover pada tanggal 21 bulan ini.

Hormat saya,

ABC

Surat itu jelas berisi tantangan untuk Mr. Poirot. Awalnya surat ini dianggap hanya olok-olok yang dibuat oleh orang gila saja. Walau sebenarnya Mr. Poirot merasa ada yang janggal dari surat tersebut. Namun tidak ada petunjuk apapun, yang bisa dilakukan hanya menunggu.

Sampai waktunya tiba tanggal 21, dan boom! Ternyata penulis surat tersebut menepati janjinya. Mrs. Ascher ditemukan terbunuh di tokonya di Andover.

Surat serupa dikirim kembali, dan kini ia akan melakukan aksinya di pantai Bexhill tanggal 25 Juli. Dan Betty Barnard ditemukan terbunuh di pantai Bexhill!

Sampai pada surat ketiga dan rupanya pembunuh berdarah dingin ini menepati janjinya. Sir Carmichael Clarke ditemukan terbunuh di Churston! Dan di samping tubuh masing-masing korban diletakkan buku Panduan Kereta Api ABC, terbuka pada halaman yang menunjukkan tempat pembunuhan.

Sungguh pembunuh yang cerdik dengan persiapan yang matang. Sebenarnya tidak terlalu cerdik karena ia telah menantang Mr. Poirot—yang ketajaman otak dan intuisinya mampu membuka kedoknya. Mungkin ia belum mengenal Mr. Poirot. Atau mungkin ia sengaja bermain-main dengannya. Kalau itu tujuannya, tentu ia salah besar!

Pada awalnya kemenangan seolah-olah selalu berpihak pada si pembunuh berdarah dingin tersebut. Mr.Poirot, Kapten Hastings, dan para inspektur dibuat berpikir keras menyingkap permainan yang dibuatnya. Sampai akhirnya kemenangan memusuhinya, jejaknya pun mulai tercium. Yang semula gelap, kini menjadi terang karna Mr. Poirot telah mengungkap kedoknya.

KELEBIHAN BUKU

Permasalahan atau kasus yang ingin dipecahkan tokoh utama cukup jelas tergambar di awal buku ini. Gaya penulisannya tidak bertele-tele. Alurnya sangat rapih, tidak mudah ditebak dan sukses membuatku penasaran. Terdapat plot twist yang sangat mencengangkan (at least for me) di akhir cerita—yang membuat buku ini sangat menarik.

Bahkan hanya dengan melihat judulnya, aku sudah dibuat tertarik dan penasaran. Para tokoh tergambar cukup jelas. Novel ini memakai sudut pandang yang cukup menarik, yaitu Kapten Hastings, sahabat karib Hercule Poirot—tokoh utama dalam novel ini.

KEKURANGAN BUKU

Bagiku yang sangat menikmati mengawal Poirot memecahkan kasus ini (walau sebenarnya penasaran dan berharap ingin cepat menemukan jawaban hehe), buku dengan 344 halaman ini terasa tipis. Dan aku tak menemukan kekurangan lainnya dalam buku ini.